Integrasi artinya : suatu kesatuan yang utuh dan tidak
terpercah belah, dan juga tidak bercerai berai.
Umat islam merupakan wahdatul ummah. Umat islam harus
membina dan menyusun masyarakatnya sebagai kesatuan yang bulat dan utuh, yang
tidak dapat dipecah belah dan dicerai-beraikan. Integrasi umat islam, kesatuan
umat islam yang bulat. Oleh karena itu merupakan satu kesatuan dari Alloh SWT
yang difirmankan dalam Al Qur’an :
وَإِنَّ هَـٰذِهِۦۤ أُمَّتُكُمۡ
أُمَّةً۬ وَٲحِدَةً۬ وَأَنَا۟ رَبُّڪُمۡ فَٱتَّقُونِ (52)
Artinya : “Sesungguhnya (agama tauhid) ini,
adalah agama kamu semua, agama yang satu(sama dalam pokok-pokok kepercayaan dan
pokok-pokok Syari'at.), dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku”. (
QS.Al mu’minun : 52 )
Ayat Al Qur’an tersebut dengan
jelas menegaskan bahwa umat islam itu merupakan
أُمَّةً وَاحِدَةً juga merupakan “Wahdatul Ummat”.
Kata wahidah mempunyai arti “kesatuan yang tunggal”.
Kesatuan umat islam itu bagaikan
satu kesatuan tubuh atau bangunan, yang apabila anggota tubuh atau
bagian-bagian dari bangunan itu terpisah dari kesatuannya, maka tubuh itu akan
menjadi cacat atau lemah dan bangunan itu menjadi ambruk.
Rosululloh bersabda :
مَثَلُ
المُؤْمِنِينَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهمْ وَتَعَاطُفٍهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ
إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرَ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالحُمَّى
: رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Artinya : Perumapamaan orang-orang mu’min itu dalam hal
cinta-mencintai, kasih-mengasihi, dan santun menyantuni, tak ubahnya bagaikan
suatu tubuh yang apabila menderita dari satu anggota tubuh itu, ikut menderita
pula keseluruhan tubuh, dengan tidak dapat tidur dan demam. ( HR. Muslim )
المُؤْمِنُ
لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا : رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Artinya : Orang mu’min terhadap
orang mu’min yang lain, tak ubahnya bagaikan suatu bangunan yang bagian-bagiannya
saling menguatkan satu sama lain.
Alloh berfirman dalam surat Ali Imron :
Artinya : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali
(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat
Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah
mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang
yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah
menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya
kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” ( QS. Ali Imron : 103 )
KEWAJIBAN MELAKSANAKAN INTEGRASI
Integrasi umat islam merupakan kewajiban yang tak dapat
ditawar-tawar lagi, yang harus dilaksanakan oleh kaum muslimin. Seperti halnya
persatuan umat muslimin pada masa Rosululloh SAW dan para sahabatnya. Oleh
karena itu, maka persatuan kaum muslimin tidak dapat diukur betapa kokohnya dan
tak dapat dinilai betapa ketinggian dan keluhurannya. Alloh berfirman :
وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعً۬ا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ
وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءً۬ فَأَلَّفَ
بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦۤ إِخۡوَٲنً۬ا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ
شَفَا حُفۡرَةٍ۬ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡہَاۗ كَذَٲلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ
لَكُمۡ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَہۡتَدُونَ
Artinya : “Dan Yang mempersatukan hati
mereka (orang-orang yang beriman, yaitu penduduk Madinah yang terdiri
dari suku Aus dan Khazraj selalu bermusuhan sebelum Nabi Muhammad s.a.w hijrah
ke Medinah dan mereka masuk Islam, permusuhan itu hilang). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan)
yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan
tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi
Maha Bijaksana”. ( Al Anfal : 63 )
Pada masa sekarang ini, walaupun umat islam menyadari akan
wajibnya bersatu, tetapi persatuan itu sukar diwujudkan. Sebabnya antara lain
ialah karena kita telah salah dalam mencari makna dan pola dari persatuan itu
sendiri. Kita cari makna dan pola persatuan dari angan-angan, pikiran
perseorangan, fanatisme golongan atau partai dan pada kepentingan pribadi atau
golongan. Maka yang kita dapatkan pun adalah arti persatuan menurut angan-angan
dan pikiran perorangan yang tanpa dasar, hasilnya mengarah ke kepentingan
pribadi, golongan atau partai. Dan sesungguhnya yang kita dapatkan itu bukanlah
arti persatuan, tetapi ambisi-ambisi perorangan atau golongan yang bahkan lebih
mempertajam perpecahan. Padahal sesungguhnya makna dan hakikat persatuan cara
mewujudkan dan cara memeliharanya haruslah kita cari dari sumber-sumber ajaran
islam sendiri, yaitu Al Qur’an dan Sunnah Rosululloh SAW.
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah,
dan janganlah kamu bercerai berai.”
Rosululloh bersabda :
تَرَكْتُ فِيْكُمْ
أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةِ
نَبِيِّهِ : رواه ابن عبد البر
Artinya : Aku telah meninggalkan padamu sekalian dua
perkara, yang kamu tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada keduanya, yaitu
kitab Alloh dan Sunnah nabi-Nya. ( HR. Abdil Barr )
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa doktrin wahdatul ummah
itu merupakan ketentuan dan perintah wajib dari Alloh, serta berakar pada
kesatuan kemanusiaan sebagai suatu ikatan kekeluargaan yang diperintahkan oleh
Alloh untuk memeliharanya. Maka perpecah-belahan itu dengan sendirinya
merupakan pengingkaran terhadap Alloh, merupakan perbuatan yang menyimpang dari
syri’at islam, menunjukkan kemerosrotan budi pekerti dan berarti pemutusan
ikatan yang diperintahkan oleh Alloh untuk memeliharanya. Oleh karena itu kaum
muslimin diperintahkan dengan keras agar menjaga diri dari pecah-belah dan
harus selalu berpegang pada kitab Alloh dan sunnah Rosululloh, terutama didalam
menyelesaikan perselisihan dan perbedaan pendapat yang terjadi di antara
mereka.
Alloh berfirman :
وَلَا
تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَٱخۡتَلَفُواْ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ
ٱلۡبَيِّنَـٰتُۚ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ لَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬
Artinya : “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang
bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada
mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. ( QS. Ali
Imron : 105 )
ٱلَّذِينَ
يَنقُضُونَ عَهۡدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مِيثَـٰقِهِۦ وَيَقۡطَعُونَ مَآ أَمَرَ
ٱللَّهُ بِهِۦۤ أَن يُوصَلَ وَيُفۡسِدُونَ فِى ٱلۡأَرۡضِۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ
ٱلۡخَـٰسِرُونَ
Artinya : “(Yaitu) orang-orang yang
melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa
yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat
kerusakan di muka bumi. Mereka
itulah orang-orang yang rugi”. ( QS. Al Baqoroh : 27 )
Rosululloh bersabda :
لا
تَرْجِعُوْا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابِ بَعْضٍ : رواه الترمذي
Artinya : Janganlah sepeninggalku
kalian menjadi kafir kembali, kalian saling memukul tengkuk satu sama lain. (
HR. At Tirmidzi )
لَيْسَ
مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ . لَيْسَ مِنًّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى
عَصَبِيَّةٍ . وَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ . رواه أبو داود
Artinya : Bukanlah golongan dari kami,
orang yang menyeru kepada “Ashobiyyah” (fanatik golongan, kepartaian kesukuan
dan sebagainya). Bukan pula golongan dari kami, orang yang perang di atas
ashobiyyah, dan bukan dari kami pula orang yang mati di atas ashobiyyah. ( HR.
Abu Daud )
Ali bin Abi Tholib berkata,
البَاطِلُ
بِالنِّظَامِ يَغْلِبُ الْحَقَّ بِلا نِظَامٍ
“Kebathilan yang terorganisir dapat mengalahkan kebenaran yang
tidak terorganisir”.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar