Oleh : H. Ma’sum
Dalam kondisi yang amat memprihatinkan, sebagaimana
halnya dewasa ini, dimana kaum muslimin dengan segenap aspeknya telah
amburadul. Sehingga menjadi bulan-bulanan kaum kuffar, maka berbicara tentang
kemenanagan kaum muslimin adalah suatu ironi. Bagaikan mimpi di siang bolong.
Namun dari sudut pandang aqidah, tiada satu pun persoalan yang mustahil
keagungan dan kebesaran Alloh SWT. Apalagi dalam al qur’an banyak dijumpai
jaminan Alloh bagi kemenangan kaum muslimin.
Alloh berfirman dalam surat al Maidah ayat 56 :
Artinya : Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya
dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut
(agama) Allah (kaum muslimin) itulah yang pasti menang.
Firman Alloh
yang lain :
Artinya : Dan sesungguhnya tentara Kami (Rasul beserta
pengikut-pengikutnya) itulah yang pasti menang. ( Ash Shoffat : 173 )
Rosululloh SAW
dalam salah satu sabdanya menyatakan :
لا تقوم الساعة حتى يقاتل المسلمون اليهود فيقتلهم
المسلمون حتى يختبئ اليهودي من وراء الحجر والشجر . يا مسلم يا عبد الله هذا يهودي
خلفي فتعال فاقتله إلا الغرقد فإنه من شجر اليهود : مسلم :
Artinya : Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum
muslimin berperang melawan kaum yahudi. Lalu kaum muslimin pun berhasil
mengalahkan mereka (karena demikian dahsyatnya gempuran kaum muslimin) sehingga
orang yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon. Lalu (atas kekuasaanNya) batu
dan pohon itu berkata (memberitahukan kaum muslumin), “Hai Muslim ! Hai Hamba
Alloh ! Ini ada orang yahudi bersembunyi di belakangku. Segeralah kemari, bunuh
dia!” Kecuali pohon Ghorqod, karena sesungguhnya dia itu pohon (yang berpihak
pada kaum yahudi). (HR. Muslim).
Pernyataan Rosul yang telah diutarakan 14 abad yang
lalu itu sungguh suatu kabar gembira yang amat agung. Yang merupakan salah satu
bagian dari mu’jizat beliau. Bagi setiap muslim yang meyakini keRosulan
Muhammad SAW, tentu tidak ragu sedikit pun terhadap kebenaran pernyataan Rosul
tersebut. Meragukan atas salah satu sabda atau pernyataan Rosul SAW bisa
menggugurkan keimanan terhadap kerosulan beliau sebagai salah satu dari pilar
syahadatain dua kesaksian.
Meski secara fisik beliau sudah tidak berada di
tengah-tengah umatnya, namun RUH risalahnya masih bergema di sepanjang masa.
Terkandung dalam pernyataan tersebut suatu qudwah (pengarahan dan bimbingan)
yang amat berharga bagi kaum muslimin sepeninggal beliau. Qudwah yang mampu
membangkitkan daya semangat jihad yang tinggi demi terwujudnya KAIMATULLOH di
persada wilayah kerajaannya. Betapa tegas, jelas dan gamblang beliau memaparkan
ihwal kemenangan yang akan diraih oleh kaum muslimin.
Bukan saja tentang keberhasilan pasukan kaum muslimin
menumpas yahudi, namun atas perkenan Alloh pula, alam sekitarnya, bebatuan,
maupun pepohonan akan berpihak mendukung bala tentara Alloh.
Artinya : Dan sesungguhnya tentara Kami (Rasul beserta
pengikut-pengikutnya) itulah yang pasti menang. ( Ash Shoffat : 173 )
Al Qur’an juga banyak menampilkan dan memaparkan fakta
sejarah umat-umat terdahulu yang membangkang dan memusuhi Rosul, seperti kaum
‘Aad, Tsamud dan Fir’aun. Meskipun memiliki kedudukan, kekuasaan teknologi maju
dan pengikut yang banyak, namun karena melawan dan durhaka kepada Alloh SWT,
maka mereka pun diadzab oleh Alloh SWT.
Surat al Fajr : 6-14
Artinya :
6. Apakah kamu
tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Aad ?
7. (yaitu)
penduduk Iram (ibokota kaum ‘Aad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.
8. Yang belum
pernah dibangun (suatu kota)
seperti itu, di negeri-negeri lain.
9. dan kaum
Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.
10. dan kaum
Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak).
11. yang
berbuat sewenang-wenang dalam negeri.
Fakta sejarah yang diungkapkan Al Qur’an itu juga
menunjukkan bahwa orang-orang yang menolak atau memusuhi ajakan dan seruan para
Rosul itu umumnya dari kalangan kaum elit, bangsawan dan penguasa. Mereka telah
menuhankan hawa nafsu dan kehidupan dunia. Mereka amat kawatir bila mengikuti
ajakan atau seruan para Rosul, pamor dan kedudukan yang ada di tangan mereka
akan hilang. Oleh karena itu, mereka mengerahkan segenap daya dan potensi untuk
melawan ajakan atau seruan para Rosul. Bahkan untuk memenuhi ambisinya itu,
mereka tidak segan-segan untuk menempuh segala cara, menebar fitnah dan teror,
mengintimidasi, menyiksa secara keji dan melakukan pembunuhan. Modus
pembangkangan seperti itu akan terus mereka lakukan sepanjang masa (zaman),
meski mereka telah mendapatkan peringatan dan adzab dari Alloh SWT, mereka
tidak sadar kalau “Tangan Kekuasaan” Alloh di atas segala-galanya. Dan Alloh
telah memberi jaminan bahwa kemenangan tetap berada di pihak orang-orang yang
membela kebenaran, yaitu orang-orang yang beriman kepada Alloh :
Ø Ar Rum : 47
Artinya : Dan sungguh kami telah mengutus sebelum kamu
beberapa rosul kepada kaumnya. Mereka datang kepadanya dengan membawa
keterangan (bukti-bukti yang kuat dan akurat) lalu Kami pun mengambil tindakan
pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa (memusuhi para rosul). Dan Kami
berkewajiban memenangkan orang-orang yang beriman.
PERTOLONGAN ALLOH
Kapan
pertolongan Alloh datang?
Demikian pertanyaan yang selalu muncul di benak
pejuang di setiap medan
jihad. Suatu pertanyaan yang mencerminkan kerinduan akan kemenangan dan
pertolongan Alloh. Dengan penuh kebesaran dan keagungan-Nya Alloh pun menjawab
:
Artinya : Ketahuilah
sesungguhnya pertolongan Alloh itu amat dekat. Al Baqoroh : 214
Sudah menjadi sunnatulloh bila setiap kemenangan harus
diawali dengan perjuangan dan setiap perjuangan menuntut pengorbanan. Manakala
perjuangan dan pengorbanan telah dilakukan dengan maksimal sesuai standar baku ilahi, niscaya
pertolongan Alloh pun segera tiba. Seperti pertolongan-Nya di medan perang badar misalnya.
Namun, jika kondisi kaum muslimin dewasa ini dalam
segenap lini kehidupannya memprihatinkan, amburadul dan bahkan menjadi
bulan-bulanan kaum teroris sejati masuk islam, yang nota bene hal tersebut
menunjukkan perjuangan dan pengorbanan yang belum maksimal yang bahkan jauh di
bawah standar baku
ilahi, maka kemenangan dan pertolongan Alloh SWT pun tak akan tiba.
Ada penyakit kronis mendasar yang telah
menjangkiti kaum muslimin pada umunya selama ini. Penyakit itu menjadi sumber
dari segenap kelemahan dan keprihatinan yang melanda segala sisi kehidupan kaum
muslimin akhir-akhir ini. Penyakit kronis itu adalah kelemahan dan kerancuhan
aqidah. Aqidah akan melemah dan rapuh bilamana tidak dipelihara dan didukung
dengan ibadah dan amal sholeh yang tulus. Akibatnya adalah daya jihad terkulai
lemas. Di sisi lain, aqidah kaum muslimin juga telah terkontaminasi
(tercampuri) oleh berbagai “Syubhat” (keragu-raguan) yang dipropagandakan oleh
musuh-musuh islam. Baik itu di kalangan sekularis, nasionalis, pluralis,
liberalis, dan yang lainnya. Maka sudah pasti akan terjadi kerancuan aqidah di
kalangan kaum muslimin.
Kerancuan aqidah ini bukan saja melumpuhkan semangat
jihad, tetapi lebih dari itu, akan menggeser arah jihad itu sendiri. Bukan lagi
limardhotillah akan tetapi lemardhotith thoghut. Dampak lain dari kelemahan
aqidah adalah munculnya penyakit wala : yaitu hubbuddunya wa karihatul maut
(cinta dunia dan takut mati membela kebenaran). Mencintai dunia yang tidak
proporsional akan melemahkan daya jihad dan bakhil dalam berkorban. Bahkan
menjadi sumber berbagai kedzoliman, perpecahan dan pembunuhan. Karena itu Rosul
berpesan,
اتَّقُوْا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوْا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوْا دِمَائَهُمْ وَاسْتَحَلُّوْا مَحَارِمَهُمْ :
مسلم
Waspadalah terhadap kedzoliman, karena sesungguhnya
kedzoliman itu akan mendatangkan berbagai kegelapan pada hari kiamat.
Dan waspadalah pula terhadap kebakhilan, karena
sesungguhnya hal itu membinasakan umat-umat sebelum kamu (yaitu) mendorong
mereka ke kancah pertumpahan darah dan menghalalkan apa yang telah diharamkan
atas mereka. (HR. Muslim)
Jadi pertolongan Alloh SWT itu baru akan tiba manakala
kaum muslimin telah benar-benar menolong agamanya.
Langkah pertama, memperkokoh aqidahnya secara
konsisten, istiqomah dalam menjunjung tinggi segenap petunjuk-Nya dan menjauhi
segenap larangan-Nya. Di samping itu, aqidah juga harus dibersihkan dari segala
bentuk syubhat (keragu-raguan) dan isme-isme yang menyesatkan dan menjadikan Al
Qur’an dan As Sunnah sebagai rujukan utama. Kemudian penyakit “wala” juga harus
dikikis habis dengan berorientasi pada kehidupan ukhrowi, sehingga setiap
aktivitas dan daya jihadnya hanya mendambakan keridhoan-Nya semata. Manakala
ikhtiar yang merupakan “Sunnah ‘Aadiyah” (upaya manusia) telah dilakukan secara
maksimal, maka “Sunnah Khoriqoh” (upaya luar biasa) berupa pertolongan Alloh
tentu akan segera tiba. Dalam kaitan ini Alloh telah berfirman :
Ø surat An nur : 55
Artinya : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang
yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia
sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia
telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia
benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan
menjadi aman sentausa. Mereka tetap
menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan
barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah
orang-orang yang fasik.
At Taubah : 33
Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa)
petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala
agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.
Ash Shoff : 9
9. Dia-lah yang
mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia
memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.
Al Fath : 28
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa
petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan
cukuplah Allah sebagai saksi.
DIA lah Alloh yang mengutus Rosul-Nya dengan (membawa
/ pimpinan (Al Qur’an) dan agama yang benar, untuk memenangkan atas segala
agama walupun orang-orang musyrik tidak menyukainya. Dan cukuplah Alloh sebagai
saksi (atas kemenangan itu).
إِنَّ اللهَ زَوَى لِي الأرْضَ : أَيْ جَمَعَهَا وَضَمَّهَا
: فَرَأَيْتَ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا . وَإِنَّ أُمَّتِّي سَيَبْلُغُ مُلْكَهَا
مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا : مسلم و أبو داود
Sesungguhnya Alloh pernah meminiaturkan bumi untukku.
Lalu aku lihat bagian timur dan baratnya. Sesungguhnya kekuasaanku akan
mencapai apa yang ditampakkan padaku itu.
لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الأمْرُ يَعْنِي الإسْلامُ مَا بَلَغَ
الَّيْلُ وَالنَّهَارُ. وَلا يَتْرُكُ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلا وَبَرٍ إِلا أَدْخَلَهُ
اللهُ هَذَا الَّذِي بِعِزِّ عَزِيْزٍ أَوْ بِدُلِّ دَلِيْلٍ. عِِِزًّا يَعِزُّ
اللهُ بِهِ الإسْلامُ وَ دُلا يَدُلُّ اللهُ بِهِ الْكُفْرَ : رواه ابن حبان.
Sesungguhnya hal ini yakni islam, akan mencapai apa
yang dicapai oleh malam dan siang. Dan Alloh tidak membiarkan rumah perkotaan
dan rumah pedesaan, kecuali Alloh akan memasukkan agama itu ke dalamnya dengan
kemuliaan orang yang mulia atau dengan kehinaan orang yang hina. Kemuliaan yang
dengannya Alloh memuliakan islam dan kehinaan yang dengannya Alloh menghinakan
kekafiran.
Ø At Taubah : 32
Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan
mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain
menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.
Ø Al Anfal : 36
Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta
mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan
harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan.
Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.
Ulasan : Orang kafir itu akan membiayai
dengan harta-harta mereka untuk menghalangi manusia ke jalan Alloh. Padahal dia
akan menyesal di kemudian hari, juga akan dikalahkan.
Fushshilat : 53
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda
(kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga
jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa
sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
Ulasan : Alloh berkehendak supaya
kalimatnya itu disebarluaskan dan disampaikan ke semua akal pikiran dan
pendengaran sehingga menhadi suatu kenyataan dan perbuatan (amalan). Kehendak
semacam ini tidak mungkin berhasil kecuali jikalau kalimat-kalimat itu sendiri
benar. Oleh karena itu Al Qur’an sengaja diturunkan oleh Alloh dengan gaya bahasa yang istimewa,
mudah dipahami, tidak sukar untuk mengamalkannya asalkan disertai dengan
keikhlasan hati dan kemauan yang baik.




